Menyongsong Era Baru Kepemimpinan NU
Oplus_131072

Menyongsong Era Baru Kepemimpinan NU

Oleh: Abdul Ghopur

Dalam rangka menyonsong Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Ke 35 yang direncanakan dihelat pada Agustus 2026 nanti, tentu telah banyak “persiapan” yang dilakukan oleh segenap jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan pengurus-pengurus NU beserta Lajnah dan Banom-Banom NU lainnya di berbagai daerah. Tak ketinggalan pula segenap warga (jama’ah) NU yang antusias tak ingin ketinggalan untuk menghadiri perhelatan akbar lima tahun sekali tersebut.

 Sebagai salah seorang yang pernah “nyantri” di pondok pesantren berpahamkan Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah (Aswaja-NU), dan sebagai kader pergerakan sayap NU, tentunya saya dan seperti kebanyakan lainnya, merasa berbahagia sekaligus “berkewajiban” menyemarakkan perhelatan akbar nan “sakral” itu dengan (jika dianggap pantas) urun rembug pemikiran melalui tulisan ini.

Mungkin sudah banyak santri dan kader NU yang menulis tema-tema tentang “Muktamar NU Ke 35,” serta harapan-harapan besar terhadap  jam’iyyah terbesar di Indonesia ini di pelbagai lini media massa. Bahkan jauh sebelum ini, ada banyak tokoh dan kader NU yang telah mengadakan diskusi rutin bulanan tentang menuju seabad NU, road show ke kantong-kantong NU di seluruh Indonesia. Salah-satu hasil road show tersebut adalah tercetaknya buku yang berjudul: “Peta Jalan NU Abad Kedua” yang ditulis oleh KH. Ahmad Bagdja (alm.) dkk.

Saya pribadi juga merasa terpanggil untuk ikut “menyebarluaskan” hal senada. Bahkan pada saat menjelang Muktamar NU Ke-34 di Lampung (23-24 Desember 2021) lalu, saya juga menulis artikel-artikel yang terkait tentang tema ke-NU-an, terutama tema Muktamar NU Ke-34 di media-media massa, dua diantaranya saya beri judul: “Arah Kepemimpinan NU di Masa Depan” dan “Tantangan Nahkoda Baru Nahdlatul Ulama.”

Suasana Kebatinan Nahdliyyin- Nahdliyyat

Syahdan, begitu gegap-gempita dan semaraknya suasana pemikiran bahkan kebatinan seluruh Nahdliyyin-Nahdliyyat menjelang minggu-minggu menuju perhelatan Muktamar NU Ke 35 yang dinanti, yang akan dihadiri jutaan anggota dan kadernya dari seluruh Indonesia. Tentu banyak rasa dan harapan yang tertumpah di situ. Saya yakin, semangat Muktamar NU Ke 35 itu bukan sebatas simbolik dan keceriaan belaka, namun menyimpan makna tersirat di dalamnya. Sebagai sebuah organisasi terbesar dan salah-satu yang tertua di Indonesia (100 tahun lebih usianya), tentu sudah banyak bakti dan bukti serta peran kesejarahan yang telah NU torehkan di atas kanvas sejarah perjalanan republik ini, bahkan dunia.

Role Model Islam Indonesia 

Di samping itu, patut pula kita syukuri NU menjadi role model Islam yang moderat (washatiyah) dan toleran (tasamuh) terbesar arus utama keberagamaan, yang mewakili mayoritas umat Islam di Indonesia atau Nusantara yang mayoritas (87,08%). Rasa syukur itu tentu terkait menjamur dan bermunculannya faham-faham keberagamaan tajdid (pembaruan)/”purifikasi (pemurnian) akidah” yang mengedepankan bentuk pendekatan tatharruf (ekstrimisme), yang merasa berkewajiban menegakkan hukum-hukum kehidupan sosial kemasyarakatan berdarkan hukum Islam secara menyeluruh (kaffah). Mendirikan negara Islam atau khilafah misalnya dianggap sebagai menegakkan syari’at Islam.

Islam Bukan Isme

Mendirikan negara khilafah sesungguhnya dengan demikian, sama saja menjadikan atau menyamakan Islam dengan asas. Adalah keliru sesungguhnya jika menjadikan Islam sebagai asas, karena justru akan merendahkan Islam sendiri. Islam adalah agama ciptaan Allah, sedangkan asas/isme ciptaan manusia. Islam jauh di atas asas, karena Islam adalah dinullah (agama Allah). Seperti zaman dahulu, Masyumi yang mencantumkan asas Islam adalah keliru karena justru memelorotkan Islam dengan menyamakannya dengan berbagai isme-isme yang lain.

Namun, menurut KH. Achmad Siddiq, tokoh sentral yang mengarsiteki penerimaan NU terhadap Pancasila, mengatakan, “NU sendiri dalam Anggaran Dasarnya yang pertama diterangkan bahwa NU didirikan berdasarkan tujuan-tujuan, bukan asas. Kita tidak usah mempertentangkan NU dengan asas negara. Karena NU tidak berbicara mengenai asas, melainkan tujuan (ghoyah).” Lalu sekarang apa tujuan NU? Ialah melaksanakan semua yang akan menjadikan kemaslahatan umat Islam dan umat manusia. Di samping NU juga selalu menerapkan konsep jalan tengah (washatiyah) dalam berbangsa dan bernegara dan dalam segala urusan kemanusiaan (Islam dan kebangsaan).

Torehan Tinta Emas Sejarah NU: Prestasi, Bukti Historis Dan Bakti NU Bagi Negeri 

Dalam sejarah pergerakan kebangsaan, NU telah banyak menorehkan serta mengukir prestasi, bukti dan baktinya terhadap keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), baik sebelum masa kemerdekaan, Proklamasi, dan sesudah era kemerdekaan. Bukti, bakti dan prestasi NU itu antara lain: Pertama, menghidupkan kembali gerakan pribumisasi Islam, sebagaimana diwariskan oleh para Walisongo dan pendahulunya. Kedua, memelopori perjuangan kebebasan bermadzhab di Mekah, sehingga umat Islam sedunia bisa menjalankan ibadah sesuai dengan madzhabnya masing-masing. Ketiga, pemberian nama “Indonesia” untuk negara yang akan didirikan pada Muktamar NU ke 11 tahun 1936 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Keempat, memelopori berdirinya Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI) tahun 1937, yang kemudian ikut memperjuangkan tuntutan Indonesia berparlemen. Kelima, melalui KH. Wahid Hayim, demi keutuhan dan persatuan bangsa, NU rela mencoret 7 kata pada sila pertama Pancasila (Piagam Djakarta) di dalam perdebatan sidang Panitia BUPKI dan PPKI. Keenam, memobilisasi perlawanan fisik terhadap kekuatan imperialis melalui Resolusi Jihad Fii Sabilillah yang dikeluarkan pada tanggal 22 Oktober 1945 (peristiwa Perang 10 Nopember 1945). Ketujuh, ketika NU bertransformasi menjadi partai politik pada Pemilu pertama 1955, NU berhasil menempati urutan ketiga dalam perolehan suara secara nasional. Kedelapan, penyematan gelar Waliyul Amri ad-Dharuri Bissyaukah kepada Presiden Soekarno sebagai pemegang kekuasaan yang darurat dengan sebab mempunyai kekuatan, pemerintah darurat yang memegang kekuasaan secara sah, dalam upaya mendelegitimasi kepemimpinan Kartosoewirjo (yang ingin mendirikan DI-TII) di era 1950-an. Kesembilan, memrakarsai penyelenggaraan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) 1965 yang diikuti oleh perwakilan dari 37 negara. Kesepuluh, NU merupakan satu-satunya Ormas Islam yang (pertama) menerima asas tunggal Pancasila tahun 1984 (Khittah NU 1984, baca: kembali ke gerakan sosial keumatan). Kesebelas, memelopori gerakan Islam kultural dan penguatan civil society di Indonesia sepanjang dekade 90-an, dan masih banyak lagi bukti historis serta sumbangsih yang teramat besar untuk disebutkan.

Perkembangan Antropologis Dan Pergeseran Basis Pendukung NU

Dalam perkembangannya, tercatat jumlah warga NU atau basis pendukungnya diperkirakan mencapai lebih dari 159 juta orang (56,9% dari penduduk Indonesia), dari beragam profesi. Sebagian besar dari mereka adalah rakyat jelata, baik di kota maupun di desa. Mereka memiliki kohesifitas yang tinggi, karena secara sosio-kultur dan sosio-ekonomi memiliki masalah yang sama. Selain itu mereka juga memiliki ikatan “ideologis” yang kuat, yaitu ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah. Mereka juga memiliki ikatan cukup kuat dengan dunia pesantren yang merupakan pusat pendidikan rakyat dan cagar budaya NU, juga Indonesia. Meski demikian, basis pendukung NU saat ini mengalami pergeseran sejalan dengan pembangunan dan perkembangan industrialisasi. Warga NU di desa banyak yang bermigrasi ke kota-kota besar, memasuki sektor industri. Jika selama ini basis NU lebih kuat di sektor pertanian di pedesaan, maka saat ini, pada sektor perburuhan di perkotaan, juga cukup dominan. Demikian juga dengan terbukanya sistem pendidikan, basis intelektual dalam NU juga semakin meluas, sejalan dengan cepatnya mobilitas sosial yang terjadi selama ini.

Saya tiba-tiba teringat percakapan antara M. Nurcholis Madjid (Ca’ Nur) dan KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pada dekade 1970-an. Ca’ Nur berkata kalau Gus Dur (NU) akan kewalahan dengan membanjirnya doktor-doktor dari NU 30 tahun ke depan. Terbukti pasca dekade 90-an dan awal-awal reformasi, lahir dan bermunculan doktor-doktor multi disipliner lulusan dalam dan luar negeri dari NU. Itu belum tercatat mereka yang bergerak di lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang penelitian, pengembangan dan pembangunan sosial. Di samping pula tumbuhnya pengusaha-pengusaha (entrepreneur) muda NU yang berafiliasi dengan partai politik maupun BUMN dan swasta. Singkatnya, basis NU baik struktural atau pun kultural sudah melampaui cita-cita para pendiri (muassis NU) nya sendiri.

Tantangan Ke Dalam: Problem Distribusi Kader NU

Pertanyaannya sekarang, potensi yang begitu dahsyat yang dimiliki NU, mau didistribusikan kemana? Ini sebuah tantangan tersendiri. Jangan sampai dengan potensi yang begitu luar biasa dan bertaburnya basis intelektual NU, kader-kader NU milenial yang mulai menjamur di mana-mana tidak terdistribusikan dengan baik, jelas, dan tepat, serta bermanfaat bagi NU sendiri dan bangsa Indonesia. Alih-alih menjadi kekuatan NU, malah menjadi “masalah” besar yang tak terselesaikan. Karena melihat potensi dan tendensi sirkus sentripetal dan sentrifugal serta fenomena bottleneck di tubuh NU karena berjejal-sesak di dalamnya.

Dengan sederet masalah dan potensi yang dimiliki NU, hemat saya perlu langkah dan upaya yang serius, strategis sekaligus sistematik. Namun saya yakin, jam’iyyah dan jama’ah NU sudah memiliki jawaban dan solusi konkret menghadapi dinamika kader dan tantangan zaman (sudah terbukti dan teruji). NU sudah memiliki arah (guidance) dan gerakan serta kepemimpinan yang solid di tubuh jam’iyyah NU sendiri. Tinggal persoalannya bagaimana merumuskan kembali metode dan role model yang dapat menyesuaikan dengan perkembangan dan dinamika zaman (now) yang unpredictable.

Momen Penting Muktamar Ke 35: Gagasan Kembali Ke Khittah 1926

Gagasan kembali ke “Khittah 1926” pada tahun 1984 yang ramai kembali digaungkan menjelang dihelatnya Muktamar NU Ke-35 (bahkan juga sempat digaungkan pada Muktamar NU Ke-34 di Lampung 23-24 Desember 2021) nanti, merupakan momentum sangat penting untuk “menafsir” kembali ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah, arah dan gerakan serta kepemimpinan di tubuh organisasi (jam’iyyah) NU serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fiqih keagamaan maupun sosial NU. Merumuskan kembali hubungan NU dengan negara pada segala bidang yang selama ini hubungan itu nampak subordinasi (NU hanya menjadi anak bawang). Gerakan tersebut tentu akan merangsang dan membangkitkan kembali gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU. Gerakan-gerakan yang dilakukan NU itu tentu bersandar pada prinsip-prinsip dasar yang dicanangkan NU dan telah diterjemahkan dalam perilaku yang konkret. Hal itu menunjukkan bahwa organisasi ini hidup secara dinamis dan responsif terhadap perkembangan zaman.

Peran Strategis Gerakan Dan Tujuan Organisasi NU

Sekali lagi, NU telah banyak mengambil kepeloporan dan peran-peran strategis dalam sejarah keindonesia-an. Lantas, dimanakah peran konkret dan strategis kebangsaan organisasi masyarakat keagamaan terbesar di dunia ini? Pertanyaan ini sesungguhnya menyiratkan tujuan awal organisasi NU didirikan, yaitu menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah (moderasi Islam) di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah dan bingkai NKRI. Selain itu juga merujuk pada usaha organisasi NU, yakni pertama, di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan. Kedua, di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam dan kebangsaan, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas. Ketiga, di bidang sosial-budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai ke-Islaman dan kemanusiaan. Keempat, di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengarusutamakan berkembangnya ekonomi rakyat kecil. Kelima, mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi warga NU (nahdliyin-nahdliyat) serta masyarakat luas.

Nakhoda Baru Di Bahtera Besar

Ibarat bahtera/kapal besar, NU adalah kapal besar yang akan mengarungi samudera yang sangat dalam dan luas, bahkan tak bertepi. Tentu bukan hal yang mudah untuk mengarungi luasnya samudera. Dalam upaya membawa dan mengarungi bahkan menerjang samudera yang luas tak bertepi ini, kapal besar ini sudah selaiknya memiliki “nakhoda baru” yang piawai, terampil, yang luwes. Karena di depan sana, ombak dan gelombang tinggi siap menanti untuk menghempaskan kapal besar yang bernama NU ini. Perlu kesiap-siagaan dan persiapan yang matang sekaligus nakhoda yang tangguh dan pemberani. Bukan sekedar asal berlayar tapi tanpa tahu arah yang pasti, tanpa tahu arus pusaran dan gelombang. Tetapi, kapal besar ini perlu dilengkapi sistem navigasi yang memadai juga canggih. Dinakhodai dan diawaki oleh nakhoda dan awak-awak yang terampil dan setia sekaligus kompak serta paham medan. Bukan awak-awak yang ecek-ecek atau kaleng-kaleng (istilah anak zaman now), tapi yang tangguh, muda, cerdas sekaligus pemberani.

NU Di Abad Ke-2: Kepemimpinan Berintegritas-Paradigmatik Sebagai Prasyarat Nakhoda Baru 

Next, what must to be done? Menjejaki abad kedua perjalanan jam’iyyah ini, langkah-langkah nyata apa yang harus diambil dan dijalankan oleh nakhoda baru NU nanti, baik Rois Aam (Pemimpin Tertinggi) dan Ketua Umum Tanfidziyah (Pemimpin Eksekutif/Pelaksana) terpilih? Saya sebut dua istilah kepemimpinan tersebut, karena selaiknya keduanya harus seiring-sejalan (karena ada indikasi belakangan keduanya tak seiring-sejalan). Langkah yang dimaksud tentulah langkah yang mengarah pada perbaikan dan penguatan nilai-nilai kepemimpinan, keorganisasian dan keumatan NU yang muaranya pada perbaikan dan penguatan nilai-nilai kebangsaan, sosial-keagamaan (berfaham Aswaja), hukum, budaya, politik dan ekonomi kerakyatan. Semuanya mutlak bersumber dari manajemen kepemimpinan-keorganisasian keumatan yang “bersih”, adil, sejahtera dan merata. Singkatnya kepemimpinan yang berintegritas sekaligus paradigmatik.

Kepemimpinan yang paradigmatik dan berintegritas merupakan prasyarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang nakhoda bahtera besar yang akan menerjang badai. Sosok yang sangat berpengalaman dalam banyak hal, utamanya kepemimpinan (leadership) dan keorganisasian. Di samping itu memiliki kedalaman keilmuan, pikiran dan hati yang bersih, ditambah jejaringan (networking) yang luas, baik dalam negeri ataupun internasional.

Pendekatan Paradigmatik Menghadapi Tantangan NU Ke Depan

Namun, persoalan NU bukan cuma itu, tetapi lebih luas lagi, lebih kompleks. Apalagi di zaman sekarang ini yang penuh dengan tantangan dan dinamika sosial yang luar biasa. Antara lain, perkembangan yang sangat pesat di bidang teknologi informasi (medsos), sosial, agama, budaya, hukum, ekonomi dan politik kekinian yang perlu penyiasatan serta pendekatan secara paradigmatik dan diteksi dini serta penanganan yang komprehensif (long term goal).

  Sederet persoalan dan dinamika yang akan dihadapi oleh NU ke depan sudah barang pasti memerlukan treatment khusus dan cara pandang yang mampu mengantarkan bahtera NU ini kepada tujuan (maqashid)nya, yakni menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah (moderasi Islam) di tengah-tengah kehidupan masyarakat, serta seluruh kemaslahatan umat. Cara pandang ini sebut saja sebagai paradigma gerakan NU yang berangkat dari kebutuhan NU sendiri, bukan gerakan “kelompok lain.”

Meskipun perdebatan mengenai paradigma NU sudah selesai, karena sekali lagi, NU sudah memiliki arah (guidance) dan gerakan serta kepemimpinan yang solid di tubuh jam’iyyah NU sendiri. NU sudah punya AD/ART, Peraturan Perkumpulan, dan Qonun Asasi. Tinggal persoalannya bagaimana merumuskan kembali metode dan role model yang dapat menyesuaikan dengan arus perkembangan dan dinamika di dalam dan laur tubuh NU serta dinamika zaman yang makin kompleks. Tetapi sekali lagi, persoalan bukan cuma itu, bukan sampai di sini. Ada segudang masalah menanti di depan mata. Di sini nahkhoda baru itu perlu teramat cermat melihat kondisi global dan internal NU sendiri. Percuma saja punya mimpi besar dan segudang, kalau kondisi internalnya morat-marit.

Membangun Paradigma Gerakan NU Berbasis Realitas

Membangun sebuah gerakan keumatan seperti NU memang sesulit membaca realitas yang semestinya menjadi pijakan paradima itu. Gerakan manapun yang dibangun tidak di atas landasan realitas atau kenyataan hanya akan menjadi korban sejarah atau, katakanlah, agen, tidak pernah menjadi struktur apalagi peradaban. Dus, paradigma yang baik adalah paradigma yang mampu menjadikan sejarah sebagai bahan penyusun yang dipadukan dengan kenyataan hari ini. Kenapa sejarah penting dalam penyusunan paradigma gerakan khususnya gerakan NU? Sebab, sejarah itu menyimpan masa lalu yang telah menyusun masa kini dan masa depan. Jadi dengan mengombinasikan sejarah masa lalu NU dengan real-life hari ini, kita akan mampu membaca kenyataan secara benar sehingga kita tidak akan terjebak dalam kenyataan mediatik yang manipulatif dan menyesatkan yang sulit kita putuskan atas hegemoni roda-gila (free wheel) peradaban.

Membangun sebuah gerakan keumatan seperti NU sekali lagi, juga harus mengandaikan faktor-faktor produksi dan distribusi serta wilayah perebutan (waring position). Tanpa menggunakan logika ini, maka gerakan akan terjebak pada heroisme sempit sesaat lalu kemudian mati tanpa meninggalkan apa-apa selain kemasyhuran dan kebanggaan diri belaka. Katakanlah kita sedang akan membangun suatu gerakan, maka kita harus memahami di mana wilayah perebutan yang akan kita temui dan, oleh karena itu, apa yang harus kita produksi dan menggunakan jalur distribusi seperti apa agar produk-produk gerakan kita tidak disabotase di tengah jalan.

Rangkaian produksi-distribusi-perebutan ini adalah mata rantai yang tidak boleh putus, karena putusnya salah satu mata rantai ini berarti matinya gerakan, atau setidak-tidaknya gerakan hanya akan mejadi tempat kader-kadernya berheroisme bahkan ber-Megalomania. Dan, yang lebih riskan gerakan semacam ini akan dengan mudah diaborsi. Sebab, ada indikasi gerakan keumatan NU selama ini mengalami subordinasi khususnya ketika gerakan itu berkorelasi dengan institusi yang bernama negara. Dari rezim ke rezim, dari pemilu ke pemilu, drama dan pertarungan atas nama moral bersih berputar tanpa skenario baru. Sehingga, tidak menghasilkan kejayaan yang elegan. Sebaliknya muncul dengan wajah buram, menguasai banyak medan pertempuran tapi kalah telak di akhir perang, banyak di mana-mana tetapi selalu tak mendapat apa-apa.

Suara Perubahan Dari Kesunyian

Di tengah tantangan dan skenario global serta hiruk-pikuk dinamika di tubuh NU sendiri yang makin sulit dibaca arah dan arusnya, senyap-senyap dari kesunyian saya mendengar dan melihat suara perubahan dari sosok muda yang progresif, visioner bahkan revolusioner. Sosok yang begitu hangat dan intim, begitu akrab  dan dekat dengan seluruh arus pemikiran perubahan yang progresif-visioner-revolusioner. Sosok itu tak lain adalah sahabat Heri Haryanto Azumi atau Cak Heri begitu biasa akrab kusapa, sementara yang lain memaggilnya Gus atau Kyai muda (Ia tak terlalu merisaukan orang mau memanggilnya apa?).

Lebih dari dua dasawarsa saya mengenal dan “bergelut” dengan sahabat Heri. Waktu yang saya rasa tidak sebentar. Nama dan sosoknya sangat akrab di telinga, pikiran dan hatiku, juga sahabat-sahabat pergerakan lainnya, bukan hanya saja di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan banom-banom/lajnah NU, tetapi juga di kelompok-kleompok gerakan lainnya seperta ormas-ormas Cipayung dan Cipayung Plus.

Sahabat Heri Haryanto Azumi yang kukenal dan kutahu, merupakan sosok intelektual gerakan yang berangkat dari bawah dan mengakar. Ia memulai semuanya dari bawah, dari kelompok-kelompok diskusi jalanan dan warung kopi, dari Ketua Komisariat, Ketua Cabang sampai Ketua Umum PB.PMII, bahkan sampai menduduki jabatan teras di PBNU sebagai Wakil Sek.Jend PBNU.

Pengalamannya tak sebatas pada dunia pergerakan atau keorganisasian mahasiswa saja, melainkan juga pada dunia profesional lainnya seperti riset ilmiah salah-satunya. Tercatat, Heri pernah terlibat aktif dan mendirikan beberapa lembaga riset di era akhir tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an, antara lain seperti Departement of Politics and Democracy, Institute of Social Institutions Studies (ISIS), Sentral Indonesia Semesta, Yayasan Bintang Kejora Crisis (involving Catholic schooling against radical Islamic group), Street Children Advocacy, Yayasan Bunda Crisis, Yayasan Sang Timur Crisis dan masih banyak lainnya.

Memang sejak mahasiswa sepak terjangnya sudah sangat terlihat gemilang. Di era awal tahun 2000-an, Ia pernah ikut International Visitor Program on Ethnicity, Multiculturalisme, and Security Issues, yang diselenggarakan oleh the US State Departement in 10 American major states (Washington D.C., Maryland, Virginia, Florida, Ohio, Gerogia, California, San Fransisco, Seattle, New York). Ia pernah terlibat aktif pada Inter-Religious Dialog yang diselenggarakan Acron State University, Ohio. Lecturer on Frederich Von Hayek’s Thoughts, yang diselenggarakan Indonesia CSIS  in collaboration with Australian Institute of Liberal Studies and Swedish Hayek Institute. Pernah juga mengikuti ASEAN People’s Assembly II, yang diadakan oleh ASEAN ISIS in Denpasar, serta terlibat dalam kegiatan pada Presentation and Writing Skills Courses, yang diberikan oleh The British Council, dan lain-lain.

Dasarnya Menjadikanmu Nakhoda Yang Baru

Tak sebatas sepak terjang dan prestasinya yang kasat mata yang kutahu, sahabat Heri Haryanto Azumi, Aku lebih mengenalmu pada sikap kepribadian dan pemikiranmu. Dan, kusebut itu sebagai integritas. Waktu membersamimu mungkin relatif sedikit. Namun gagasan perubahan dan kemajuan yang pernah kau sampaikan dan telah kau torehkan ke dalam sebuah karya, serta dialog yang pernah tercipta antara kita, cukup sudah rasanya dasar meyakinkanku untuk menjadikanmu pemimpin atau nakhoda baru kapal besar yang bernama NU ini.

Sikap dan kepribadianmu yang paripurna sebagai insan pergerakan yang intelektual, intelijensimu yang berwawasan global menembus cakrawala dunia, namun dengan sikap yang tetap membumi (down to earth), sikap dan akhlak sebagai seorang santri yang berfaham Aswaja, itu yang mengagumkan. Di samping kedalaman ilmu dan pengalaman, sosokmu yang tenang, bijaksana, sabar dan ngemongngayomi kawan-kawan, menjadikanmu begitu menyatu dengan jama’ah pergerakan baik di internal NU maupun di luar NU. Dus, karaktermu sebagai orang muda yang cekatan, sigap, gesit, memiliki semangat yang sangat tinggi, berpikir besar dan memiliki mimpi yang besar pula. Ditambah pula sikapmu yang gandrung akan perubahan, kreatif serta inovatif, tidak anti dalam mengadopsi nilai-nilai atau sesuatu yang baru yang jauh lebih baik.

Sebagai sosok cendikia muda, engkau sangat revolusioner terutama gagasanmu menerobos kebuntuan dan kebekuan serta “kemapanan” berpikir para elit tua selama ini. Aku tidak mengatakan bahwa para elit tua itu salah. Namun tantangan jam’iyyah ini ke depan sungguh dahsyat yang memerlukan bukan sekedar tindakan politics as usual, melainkan terobosan-terobosan yang out of the box. Dan, itu hanya bisa dilakukan oleh sosok muda yang progresif, revolusioner, visioner dan berintgritas tinggi sepertimu yang sangat potensial dalam memajukan dan membawa bahtera besar NU ini ke kancah internasional, ke gerbang emas kemerdekaan. Singkatnya engkau adalah insan muda al-kamil.

Tentunya, menjadi harapan besar bagi warga NU khususnya dan seluruh masyarakat-warga bangsa pada umumnya, di usianya yang seabad lebih ini NU mampu menghujam lebih dalam meluaskan ide dan gagasan serta terobosan besar nilai-nilai kebangsaan yang bertumpu pada kultur dan naturnya Indonesia untuk menyongsong era baru kepemimpinannya, yang bersumber dari ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah. Menjadi jangkar sekaligus perekat bagsa. Menghasilkan kader-keader dan pemimpin atau nakhoda NU yang visioner-mendunia (seperti Gus Dur misalnya), yang mengayomi seluruh umat. Pemimpin milik umat dan punya keberpihakkan yang jelas pada nilai-nilai kerkayatan dan intelektual (terutama pada kaum intelektual muda NU). Dan, sifat-sifat kepemimpinan seperti ini, setidaknya buat saat ini ada pada sosok bernama Heri Haryanto Azumi.

Sebab, ada indikasi bahwa selama lebih kurang dua dekade belakangan ini semangat (ghirah) intelektualisme (diskusi, kajian, menulis, membaca) di kalangan orang muda kurang diminati lagi. Padahal, sejatinya beridirnya NU diawali dari basis-basis pemikiran atau intelektual (baca: Taswirul Afkar). Serta sinyalemen bahwa bangsa Indonesia dewasa ini makin tercerabut dari akar tradisinya. Tercerabut dari jati dirinya sebagai bangsa yang bermusyawarah dan bergotong-royong.

Pada akhirnya, semoga pada Muktamar NU Ke 35 ini, NU mampu menemukan kembali (reinventing) khittah-nya yang sangat fundamendal yang menyandarkan fundamen keorganisasian dan kepemimpinannya pada Qonun Asasi-nya Hadratus Syekh KH. M. Hasyim Asy’ari, Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga, dan Peraturan Pekumpulan NU lainnya. Sebab, ada indikasi penyelenggaraan organisasi NU selama beberapa tahun belakangan ini menyimpang dari ketentuan-ketentuan organisasi yang telah dirumuskan. Ditambah makin meruncingnya silang-pendapat, friksi, dan “terpecah” menjadi banyak kubu, yang pada gilirannya akan sangat merugikan jam’iyyah dan jama’ah NU sendiri. Dengan demikian, nakhoda baru NU tidak bisa dipimpin dan dilaksanakan oleh model kepemimpinan yang biasa-biasa saja, harus yang luar biasa. Sebab, tantangan kebangsaan dan NU ke depan juga sungguh luar biasa![]  

Penulis adalah Intelektual Muda Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah (ASWAJA NU);

Founder Indonesia Young Leaders Forum

(menulis banyak buku dan artikel)Disclaimer: (makalah ini merupakan pendapat peribadi, orang lain dapat saja berpendapat berbeda).

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *