Berbenahlah Wahai Para Elit
Oplus_34

Berbenahlah Wahai Para Elit

Oleh: Abdul Ghopur

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa; salah-satu Inisiator Kedai Ide Pancasila.

Haru dan pilu saat mendengarkan pidato Gubernur Aceh Muzakir Manaf yang biasa disapa Mualem (guru) saat beliau menyampaikannya pada Peringatan 2 Dekade Hari Damai Aceh, yang mengusung tema: “Dignity, Justice, And Hope” di Convention Hall Balai Mas Raya Aceh, Banda Aceh beberapa waktu lalu. Dengan ekspresi menahan sedih, tangis, marah, dan sekaligus harapan berbalut kecemasan akan janji-janji pemerintah pusat yang masih banyak atau belum juga terealisasi sejak 20 tahun lalu, saat ditandatanganinya perjanjian perdamaian antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Finlandia, 2005.

Sebelum saya lanjutkan tulisan saya ini, saya berusaha mencatat atau menuliskan (tanpa kurang atau lebih) kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Sang Mualem saat beliau berpidato melalui secarik kertas ini, yang bunyinya seperti ini:

“Bapak ibu sekalian yang saya hormati dan saya cintai, hari ini genap 20 tahun perdamaian Aceh, ini adalah salah-satu waktu yang panjang, yang membosankan, yang menggairahkan, juga mengecewakan. Pada hari ini juga saya sebagai status Panglima Komando Gerakan Aceh Merdeka, dan juga pada hari ini saya adalah Gubernur Aceh yang dipercayai oleh masyarakat. Bapak ibu sekalian, yang perlu kita ketahui adalah perdamaian Aceh satu-satunya yang lama dibandingkan beberapa perjuangan yang kita lihat di Asean seperti Filipina dan Moro, Thailand dengan Pattani, India-Khasmir, yang nampak di depan mata kita. Macam mana Israel dengan Palestin, hanya perdamaian beberapa bulan, beberapa tahun, akhirnya sirna tidak dapat melanjutkan lagi perdamaian.

Tapi, pada saat ini Aceh adalah begitu ikhlas dalam perdamaian. Tapi kita harapkan pusat harus juga mengerti, karena pada saatnya, pada banyak perjanjian, kita tidak menuntut lagi kemerdekaan, itu janji tokoh-tokoh. Yang namun semuanya kita laksanakan kita kasih kepada Aceh. Tapi saat ini intinya, hanya 35% yang dapat rampung antara perjanjian Pusat dengan Aceh. Tetapi pada dasarnya kami cukup ikhlas, Pak Pangdam, Pak Kapolda, Pak Kejati, Pak Kejari, dan juga Kabin, Kabinda, ini adalah pengharapan kami, khususnya Aceh dan khususnya lagi para pejuang, para pejuang Aceh. Satu saya perlu, saya garisbawahi adalah perjanjian kita di Helsinki, kami ada beberapa ribu mantan kombatan dan puluhan ribu yang sudah almarhum plus anak yatim piatu dijanjikan oleh pusat untuk per-persnoil dua hektar. Tapi sampai saat sekarang ini yang mereka janjikan nihil sama sekali. Itulah teriakan kami! 

Ganti datang, ganti datang lagi, kembali, kembali pada dasarnya, terangkan lagi, itu persoalan. Saya juga berpesan berharap kepada seperjuangan, mantan kombatan, kita tetap bersabar karena kita ada pimpinan untuk menyatakan apa yang belum selesai, apa yang belum diberikan kepada kita. Saya selepas ini akan menjumpai pak presiden, akan mengatakan, menyatakan semuanya yang terkait masalah MOU ini. Dan juga kita komitmen dalam menjada perdamaian. Selamat hari damai Aceh nyang ke 20 tahun, semoga bersatu membangun Nangroe Aceh tercinta menuju kemakmuran dan kejayaan, billaahitaufik walhidayah, wassalamu’alaikum warohmatullahi wata’aala wabarokaatuh.”

Terenyuh mendengar pidato Mualem dengan nada suara yang bergetar tersebut. Pun, keram mendadak rasanya jari-jemari ini saat menulis artikel kali ini, apalagi di tengah suasana kebatinan bangsa kita yang sedang mengaharu-biru akibat bencana alam di banyak daerah Indonesia. Banjir air dan banjir bandang melanda banyak daerah seperti Aceh, Tapanuli Sumut, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Purworejo, Guci (Tegal), Cirebon, dan beberapa daerah lainnya, yang semunya mengakibatkan hujan-badai dan banjir air mata bangsa. Tak sedikit harta-benda bahkan nyawa yang hilang sia-sia, ribuan jumlahnya.

Semua emosi rasa, jiwa, pikiran, hati tersayat berbalut kesedihan, tangis, marah, prihatin, rasa tak tega, menyatu dalam gemuruh amarah suci, menyesalkan bahkan mengutuk terjadinya tragedi kemanusiaan yang memilukan akibat semua bencana ini. Bukan kutuk kepada Tuhan Yang Maha Rahman Maha Rahim yang kita langitkan, melainkan pada ulah perbuatan manusia-manusia serakah, rakus, dan tamak yang membabat-menggunduli hutan-hutan lindung menjadi jutaan hektar pohon-pohon sawit dan tambang, demi keuntungan pribadi dan kelompok semata.

Atas nama pembangunan dan devisa negara katanya, para elit politik dan ekonomi mencabik-cabik perut bumi Indonesia. Isi perut bumi Indonesia digaruk-keduk hingga berlubang-terburai menyisakan kerusakan alam dan bumi pertiwi. Tanah Nusantara kini tak lagi mampu menahan-menyerap air karena paru-parunya telah rusak, pohon-pohon hutannya telah berubah menjadi pohon-pohon sawit, unsur haranya rusak. Tanah pertiwi banyak yang luka menganga lebar digaruk alat-alat berat pembangunan, digaruk oleh nafsu serakah dan syahwat ekonomi-politik para oligarki.

Bukan berkah, tapi kutuk yang diterima oleh kami rakyat penduduk asli pribumi (indigenous people). “Berkah” dan “sejahtera” hanya untuk kaum oligarki. Bukan manfaat pembangunan yang kami terima, tapi ribuan balok kayu besar dan lumpur sisa banjir bandang yang memendam jasad kami hidup-hidup. Bukan gemerlap intan, berlian, permata dan emas yang melingkar di jari-jemari, lengan dan leher kami, melainkan penyakit kulit dan kelaparan. Bukan sejahtera yang kami rasakan, tapi kesengsaraan dan penderitaan.

Sial, di tengah deru penderitaan rakyat menghadapi bencana dahsyat ini, para elit politik dan pejabat publik bukannya segera bertindak nyata dan berbenah, malah sibuk berbohong kepada rakyat bahkan nyinyir terhadap para relawan yang berusaha membantu. Bukan berterima kasih, malah mempertanyakan dan mempersulit. Bahkan ada oknum pejabat lokal yang menimbun bantuan masyarakat Indonesia. Ada pula yang memalak jutaan rupiah kepada para relawan yang berusaha menyalurkan bantuan dari gudang-gudang penyimpanan.

Kenyataan ini rasanya lebih dahsyat daripada sekadar moral hazard. Ternyata Indonesia bukan saja dilanda bencana alam dahsyat, tetapi juga bencana moral para pejabatnya. Hatinya sudah mati. Cintanya pada rakyat sudah dibuang. Cintanya hanya untuk dirinya sendiri, keluarga serta kroninya saja.  

Keadilan apa yang akan datang dan bisa kita harapkan? Kesedihan, kesengsaraan, penderitaan hanya tontonan bagi mereka yang diperkuda jabatan, yang diperbudak syahwat kuasa dan gemerlap hidup.

Sabar, sabar, sabara dan tunggu, itu jawaban yang kami terima sambil kedua tangan dan lengan kami melingkar erat memegangi perut kami yang kelaparan, sambil merintih menahan tangis yang tak lagi bisa keluar dari mata dan menetes di pipi. Sementara mereka yang duduk di singgasana megah menara gading sambil duduk diskusi menyantap hidangan makanan dan minuman mewah nan lezat, sambari asyik menghisap cerutu Kuba yang harganya jutaan dan tertawa menyaksikan beribu wajah berkabung di sisa puing reruntuhan rumah kami. Mereka masih bisa tertawa. Kami menangis saja sudah tidak bisa, karena air mata kami telah kering tersapu bencana. Mereka seperti meludah di atas tubuh kami yang resah.

Wahai para elit, tolong hentikan, jangan diteruskan! Hentikan kecongkakkanmu, kepongahanmu! Kami muak dengan penindasan dan keserakahan, serta kesewenang-wenangan. Dan, banyak lagi, masih teramat banyak untuk disebutkan. Kami lelah menanti keadilan dan ketidakpastian! Di atas puing-puing reruntuhan rumah kami yang hancur bahkan tak tersisa, kami sandarkan cita-cita. Kepada siapa kami harus percaya dan bergantung serta menyandarkan asa? Tolong kalian jawab dengan cinta. Jangan sampai kami adukan luka-derita ini kepada Tuhan kami. Jangan sampai kami meminta pada Tuhan kami agar tamatkan saja derita kami dan pindahkan ke depan halaman rumah mewahmu!

Kami sungguh hidup tak manja Tuhan. Berat beban Kau timpakan pada kami. Cela, nista dan dosa apa sehingga Engkau begitu murka? Sungguh kami tak mengerti. Setiap detik duka berpadu dalam hidup kami yang resah bertanya, adilkah keputusanMu? Kami tak ingin rintihan ini mejadi caci-maki atas tiap duka dan kami tudingkan padaMu seraya berkata: “bosan dalam irama takdirMu!”

Wahai para elit, berbenahlah! Jangan sampai kesabaran dan rasa hormat kami yang tinggal setitiknya benar-benar habis. Kami sadar, semua tragedi bangsa yang memilukan ini tak mungin terjadi tanpa seizinNya. Semua memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Semua telah terjadi, nasi sudah menjadi bubur. Akan tetapi sebagai bangsa yang berketuhanan Yang Maha Esa kami tentu yakin dan percaya, bahwa setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Sebagai bangsa yang beriman, kita tentu wajib memetik hikmah di balik semua kejadian. Jadikanlah ini sebagai renungan dan sekaligus momentum yang sangat berharga bagi kita semua sebagai suatu bangsa.

Tetapi, di mana dan apa sejatinya yang harus dilakukan oleh elit pemimpin rakyat  di tengah hilangnya kepercayaan dan keputusasaan kami terhadap kaum elit (tua) yang diangap tidak mampu menyelesaikan krisis bangsa ini? Dan, apakah kami harus memilih gerakan moral atau politik, turun ke jalan?

Marilah ke depan kita saling welas asih dan asuh, tenggang rasa, berbagi, berempati, bersimpati serta tepo seliro dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tinggalkan sifat tamak, rakus dan serakah. Tinggalkan korupsi. Tinggalkan sifat sombong dan arogansi. Tinggalkan sifat adigang-adigung-adiguna. Tumbuhkan rasa persaudaraan yang lebih erat, rasa nasionalisme, rasa senasib-sepenanggungan dan senaungan, di bawah kibaran bendera Merah Putih dalam bingkai keindonesiaan dan kebhinnekaan berdasarkan Pancasila. Hormati dan hargai jasa-jasa para pendahulu kami yang telah banyak berkorban harta, benda, jiwa dan raga, darah dan air mata demi terwujudnya kemerdekaan bangsa.

Kakek-nenek moyangmu dan kakek-nenek moyangku, buyut-buyutmu dan buyut-buyutku pernah mengusir penjajah sama-sama. Para pendahulu kita memiliki cita-cita kemerdekaan yang sama, cita-cita bernegara bersama bukan buat satu golongan saja! Karena persamaan di antara kita, marilah kita saling percaya lagi, bergandeng tangan bersama-sama lagi. Merah darah kita, putih tulang kita, jangan berpencar dan bertengkar lagi. Mari kita melangkah bersama, lewati badai sejarah bencana ini, sembuhkan luka bangsa. Kepadamu sekalian yang luka dan gugur demi bangsa, kamu sekalian, kamu semua, dari relung dan lubuk hati yang paling dalam kukirim-sampaikan do’a: Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafiihi wa’fuanhu, Allahummaghfirlaha warhamha wa’aafiha wa’afuanha, lahumul faatihah! Husnul khootimah.. Berbenahlah wahai para elit![]

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *