foto.Gepal

Pemkab. Gresik Abai Pembangunan

Menjelang pergantian tahun 2025, lembaga swadaya masyarakat (LSM) Gerakan Penolak Lupa alias Gepal mengadakan serangkaian kegiatan sosial dan refleksi akhir tahun di salah-satu bilangan di Jawa Timur, Wonosalam, Jombang, yang diakhiri dengan renungan kebangsaan di Markas Besar mereka, Gresik, Jatim.

Kegiatan yang mereka beri tema: “Rasan-Rasan Akhir Tahun” yang dilaksanakan secara simultan ini merupakan salah-satu agenda Gepal dalam rangka menyukseskan program pembangunan daerah dan kepedulian terhadap kesejahteraan dan kenyamanan masyarakat Gresik.

Untuk kesekian kalinya Gepal melakukan aksi nyata turun ke bawah (Turba) ke masyarakat akar rumput. selain mengadakan kegiatan bakti sosial, Gepal juga menjaring dan menghimpun suara-suara lirih masyarakat dalam rangka mendengar keluh-kesah dan mengamati situasi dan kondisi (sikon) riil yang tengah terjadi di grass root. Tujuannya adalah sebagai bahan refleksi (renungan) sekaligus masukan buat Pemkab. Gresik, agar performa dan tanggungjawab Pemkab. Gresik makin baik dan martabatif.

“Refleksi ini adalah bagian dari wujud kepedulian kami melihat dan mencermati secara objektif kondisi kekinian di Kabupaten Gresik yang kian memprihatikan yang masih saja terus terjadi, seperti buruknya tata kelola pedagang kaki lima yang tak sesuai perda, retribusi parkir yang fungsi pengalokasiannya tidak jelas kemana, penanggulangan banjir yang tak tuntas, pencemaran lingkungan, polusi udara yang makin parah, dan sederet permasalahan lainnya termasuk belum dilaksanakannya program pendidikan gratis 13 tahun serta belum mampu menekan tingkat/jumlah pengangguran terbuka usia produktif yang sangat tinggi,” pungkas Abdul Wahab (Gus Wahab), Ketua Umum Gepal.

“Kami berharap Pemkab. Gresik serius berbenah dan melakukan langkah-langkah konkret ke depan untuk kemaslahatan dan kemajuan masyarakat Gresik. Pemerintah tidak cukup hanya memiliki niat baik (good will), tetapi harus dibarengi dengan langkah nyata (political will) . Jangan hanya omon-omon!” tambahnya.

“Ini merupakan kritik-autokritik yang tujuannya adalah untuk kemajuan dan kemakmuran bersama. Pemkab Gresik tak perlu merasa tersinggung apalagi marah. InsyaAllah niat kami baik, mulia. Kan kalau masyarakat Gresik sejahtera, tenteram, tertib dan nyaman, yang senang dan bangga pemerintah juga. Kita semua juga jadi senang dan bangga,” tambahnya lagi.

“Sebagai bangsa yang sarat dengan falsafah gotong-royong (Pancasilais) tentunya kita harus saling bahu-membahu satu-sama lain toh? Pemerintah tidak bisa kerja sendirian, kami merasa terpanggil untuk ikut terlibat aktif dalam pembangunan di daerah dalam sekala lini, dimana maju atau mundurnya Kabupaten Gresik bergantung pada kerjasama dan tanggungjawab kita bersama.” sela Wahab.

Dalam kegiatan tersebut Gepal juga melibatkan organ-organ pergerakan lain diantaranya, Aliansi Warga Wotan (AWAN) dan Aliansi Dalegan Bersatu (ADAB) serta masyarakat umum lainnya.

Sebagai catatan, organisasi Gepal secara de jure dan de facto telah berdiri selama 8 tahun (sewindu), tepatnya 10 November 2017. Sebagai organisasi kepemudaan yang berpaham kebangsaan dan berazaskan Pancasila tentunya sudah menjadi tugas dan tanggungjawab utama Gepal dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila melalui keterlibatan aktifnya dalam pembangunan bangsa di pelbagai lini. Telah banyak bukti dan bakti keberadaannya bagi masyarakat Gresik yang dapat dilihat dari bukti historis dan dokumentasi perjalanan Gepal.

Selain organisasi bergaya gerakan jalanan, Gepal juga merupakan organisasi yang di dalamnya terhimpun para intelektual-cendekia yang memiliki jaringan luas di seluruh Indonesia termasuk Jakarta.

Sewindu sudah Gepal berdiri, hadir dan bergerak-tidak untuk dilupakan, makin mengukuhkan keberadaanya di Indonesia (utamanya di Gresik). Bahkan pada perayaan hari berdirinya yang ke 8, Gepal kian menunjukkan dan memunculkan citra dirinya sebagai organisasi gerakan yang intelektual. 10 November 2025, selain menghelat pentas seni, musik dan budaya yang manghadirkan seniman dan budayawan dari berbagi daerah, Gepal juga menyelenggarakan bedah buku yang berjudul “Pancasila Nalar Bangsa” karya Abdul Ghopur, Intelektual Muda NU, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Stategis Bangsa (LKSB) dan A. Dwi Hendro S., perwira intelektual/pakar intelijen, Founder Kedai Ide Pancasila (KIP). Dalam kegiatan tersebut hadir sebagai narasumber, yakni Gurubesar Ahli Hukum Tata Negara, Prof. Dr. Soetanto Soepiadhy, SH., MH., dari Universitas 17 Agustus Surabaya (pemeran film Perang Surabaya 10 November 1945), Abdul Ghopur, penulis buku Pancasila Nalar Bangsa (dari Jakarta) dan Ketua DPRD Kab. Gresik, Syahrul Munir.

“Semoga di tahun 2026 Pemkab. Gresik dan masyarakat Gresik jauh lebih baik lagi, lebih humanis, bermartabat, dan modern tanpa harus kehilangan jati diri dan akar tradisinya yang luhur,” demikian Wahab mengakhiri.

Berikut pernyataan sikap Gepal yang terangkum dalam 5 (lima) point pandangannya:

*Rasan-Rasan Ahir Tahun 2025 (Pres Rilis) :*

1. Pemerintah tidak becus melakukan penataan PKL sesuai dengan amanah perda ketertiban umum

2. Pemerintah masih belum memakimalkan perda lokal konten, karena terbukti masih banyak usia produktif yang menganggur dan angka pengangguran terbuka masih tinggi.

3. Pemerintah Kab. Gresik Belum mampu melaksanakan pendidikan Gratis 13 Tahun.

4. Pemerintah Kab. Gresik tidak serius dalam melakukan penanggulangan banjir yang semakin sering terjadi, baik di Gresik Selatan, Gresik Utara bahkan Gresik Kota.

5. Pemerintah Kab. Gresik tidak serius dalam pengelolaan retribusi parkir, khususnya parkir tepi jalan umum.

2 Comments

  1. Abdul Wahab

    Terimakasih kepada kawan-kawan LKSB yang telah merilis kegiatan dan keresahan warga Gresik jawa timur, semoga kedepan LKSB semakin jaya di udara, laut dan darat…
    “Salam Menolak Lupa”

    • Terimakasih atas semangat dan do’anya.. semoga seluruh kader dan anggota GEPAL juga selalu sukses di pelbagai bidang kehidupan.. aamiin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *